kecerdasan intelektual sosial dan emosional

tiga kecerdasan ini haruslah seimbang, untuk menjadi sukses orang harus tahu cara meningkatkan kecerdasan emosional, intelektual maupun sosial. namun ada satu hal lagi yang juga di sadari adalah kecerdasan spiritual.

salah satu caranya dengan cara puasa. puasa bisa meningkatkan Taqwa dan Kecerdasan Emosional-Spiritual (Taqwa dan ESQ)

Puasa adalah rukun/pilar Islam yang ke-empat. Keberislaman seseorang tidak akan tegak tanpa puasa. Begitu penting puasa, hingga diwajibkan oleh Allah swt sendiri dalam surat al-Baqarah 183 maupun Rasulullah saw.dalam hadits rukun Islam.

Letak pentingnya puasa sesungguhnya berada pada diri pelakunya sendiri. Dalam Qur’an disebutkan, puasa bertujuan agar kalian menjadi bertaqwa. Menjadikan artinya memproses, mengolah diri dan jiwa yang berpuasa menjadi berkepribadian taqwa. Jadi taqwa adalah “kualitas” kepribadian, atau pribadi yang berkualitas.Makna kualitas ini tampak dalam ciri-ciri orang yang bertaqwa (muttaqin) seperti disebutkan dalam Qur’an, misalnya surat al-Baqarah ayat 1-5 dan Ali-’Imran ayat 133-136.
Pada suarat al-Baqarah ciri-ciri muttaqin yaitu percaya pada hal-hal ghaib, mendirikan shalat, menginfakkan sebagian rizqi-Nya. Setelah itu adalah orang yang membenarkan kitab-kitab sebelum al-Qur’an serta percaya pada hari akhirat. Senada dengan itu, surat Ali ‘Imran menandai orang bertaqwa adalah mereka yang berinfaq/tetap memberi dikala susah, sempit maupun dikala lapang dan senang, mampu manahan amarahnya dan memberi maaf kepada manusia yang berbuat salah kepadanya. Disambung setelah itu dengan ingat kepada Allah swt dan segera bertaubat tidak mengulangi perbuatannya yang keji dan berhenti menganiaya/merugikan diri sendiri.
Kedua surat itu ternyata sama-sama menyebutkan untuk tetap berinfaq atau memberi, menyisihkan sebagian harta kepada orang yang membutuhkan baik di kala sempit maupun di kala lapang, mampu menahan amarah dan memaafkan. Bagi seorang Muslim, ini haruslah dimaknai untuk tetap dan senantiasa berbagi “materi”, tidak kikir kepada kaum papa dan mereka yang tidak berpunya dalam kondiri apapun. Pada saat yang sama tidak gampang marah, lepas kendali karena marah dan pemaaf.
Perintah dan karakter moral religious seperti itu memang mudah diucapkan. Tapi jelas membutuhkan kemampuan dan pembiasaan, latihan lebih untuk melaksanakannya.
Pertama membutuhkan daya intelektual untuk memahami dalam jangka panjang dan strategis bahwa mampu manahan amarah artinya mengelola emosi agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Dan berbagi materi artinya adalah berbelas kasihan. Lebih dari itu juga membutuhkan kematangan emosional. Tetapi di atas kedua kecerdasan intelektual dan emosional itu diperlukan kecerdsan spiritual untuk mempertahankan keajekannya, kontinuitasnya. Kecerdasan spiritual diperlukan untuk memandu dan menemukan makna hakiki kehidupan dan perbuatan kita di dalamnya, sehingga tidak kecewa di saat-saat sulit serta mampu mempertahankan kebiasaan positif dan humanis itu.
Nah, puasa, dengan karakteristiknya yang non-verbal dan kasat mata itulah yang akan mengantarkan pelakunya mempunyai kepribadian berkualitas atau bertaqwa ini. Bukankah dengan puasa kita diajari untuk ikhlas, tidak pamer ibadah apalagi kemegahannya?Bukankah dengan tidak makan-minum secara sosial kita sebenarnya diajari untuk ikut merasakan, berempati terhadap penderitaan orang lain? Puasa mengajari kita untuk konsisten terus menerus berbuat kebajikan. Semuanya tentu sangat efektif karena dibungkus dengan pahala Ramadan. Wallahu a’lam.
This entry was posted in belajar emosi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>